Senin, 16 September 2013

Sejarah Sastra Periode 1945-1953

Sejarah Sastra Indonesia Periode 1945 – 1953

Munculnya Chairil Anwar dalam panggung sejarah sastra Indonesia memberikan sesuatu yang baru. Tidak dapat dibantah pula bahwa sajak-sajak Chairil Anwar bernilai, bahkan bernilai tinggi. Bahasa yang digunakan ialah bahasa Indonesia yang hidup dan berjiwa. Bukan lagi bahasa buku, melainkan bahasa percakapan sehari-hari yang dibuatnya bernilai sastra. Oleh karena itu ada orang yang berpendapat bahwa baru dengan sajak-sajak Chairil Anwarlah sebenarnya sastra Indonesia lahir, sedangkan karya-karya Amir Hamzah, Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisjahbana dianggap sebagai hasil sastra Melayu saja. Pendapat ini tidak bisa diterima, karena Chairil Anwar sesungguhnya merupakan buah dari pohon yang ditanam dan dipupuk oleh para pendahulunya.
Chairil Anwar segera mendapat pengikut, penafsir, pembela dan penyokong. Dalam bidang penulisan puisi muncul Asrul Sani, Rivai Apin, M. Akbar Djuhana, P. Sengodjo, Dodong Djiwapradja, S. Rukiah, Walujati, Harjadi S. Hartowardojo, Muh. Ali dan lain-lain. Dalam bidang penulisan prosa, Idrus pun memperkenalkan gaya menyoal baru yang segera mendapat pengikut yang luas.
Dengan munculnya kenyataan itu, maka banyaklah orang yang berpendapat bahwa suatu angkatan kesusastraan baru telah lahir. Pada mulanya angkatan ini ada yang menyebutnya Angkatan Sesudah Perang, Angkatan Kemerdekaan, Angkatan Pembebasan, Angkatan Chairil Anwar dan Generasi Gelanggang. Baru pada tahun 1948, Rosihan Anwar menyebut angkatan ini dengan nama Angkatan ’45. Nama ini segera menjadi populer dan dipergunakan oleh semua pihak sebagai nama resmi.
Meskipun namanya sudah diperoleh, namun sendi-sendi dan landasan-landasan ideal angkatan ini belum dirumuskan. Baru pada tahun 1950 ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’ dibuat dan diumumkan. Surat kepercayaan itu ialah semacam pernyataan sikap yang menjadi dasar pegangan perkumpulan yang bernama ‘Gelanggang Seniman Merdeka’. Perkumpulan ini didirikan tahun 1947. Sebagai media tempat para seniman ‘Gelanggang Seniman Merdeka’ ini bergerak, maka dalam majalah siasat yang dipimpin oleh Rosihan Anwar dibuka sebuah ruang Kebudayaan yang diberi nama Gelanggang. ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’ juga pertama kali diumumkan dalam ruangan kebudayaan majalah ini (23-10-1950).



SURAT KEPERCAYAAN GELANGGANG
Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.
Ke-Indonesia-an kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami. Kami tidak akan memberikan suatu kata-ikatan untuk kebudayaan Indonesia. Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara-suara yang dilontarkan dari segala sudut dunia dan yang kemudian dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha-usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran-nilai.
Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikianlah kami berpendapat bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.
Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui itu ialah manusia. Dalam cara mencari, membahas dan menelaah kami membawa sifat sendiri.
Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.

                                Jakarta, 18 Februari 1950

Meskipun tidak ada hubungan organisatoris antara Angkatan ’45 (yang memang bukan merupakan organisasi) dengan perkumpulan ‘Gelanggang Seniman Merdeka’, tetapi hingga sekarang biasanya orang berpaling kepada ‘Surat Kepercayaan’ tersebut kalau hendak merumuskan konsepsi Angkatan ’45 tentang hidup dan seni. Mungkin karena dalam ‘Gelanggang Seniman Merdeka’ itu berkumpul tokoh-tokoh sastra dan seniman lainnya yang kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh Angkatan ’45. (Asep Jejen Jaelani, 2013 : 32-34)
Chairil Anwar menjadi terkenal dan dikagumi sebagai penulis dalam kelompok yang terletak di pinggir pusaran yang berpusat pada sjahrir. Dengan pengertian, ia membentuk kontak dengan orang-orang yang sifat dan pandangan kulturalnya dapat dianggap berada di dalam nasionalisme Indonesia aliran sjahrir, tetapi mereka sesungguhnya tidak mempunyai partisipasi secara langsung dalam lingkar pusarannya itu. Kemudian pada saat Indonesia berpindah ke suasana penuh kegembiraan dan harapan di akhir tahun 1945, Chairil Anwar menampilkan lingkarannya sendiri yang terdiri dari laki-laki dan wanita dalam jumlah yang sangat sedikit. Mereka yang tergabung ini memandang diri mereka sebagai juru bicara kebudayaan bagi bangsa Indonesia yang baru. Mereka inilah yang kemudian menjadi para penulis dan intelektual yang menyusun kerangka berpikir dan menghasilkan karya-karya sastra yang membentuk Angkatan 45 sebagai hasil pertumbuhan tradisi Sjahrir, dan pada saat yang sama juga telah menemukan karakternya sendiri. Kelompok Chairil Anwar pertama kali memperoleh saluran resminya dalam berekspresi melalui penerbitan majalah kebudayaan Gema Suasana bulan Januari 1948. Dewan redaksinya terdiri dari Asrul Sani, Chairil Anwar, Mochtar, Rivai Apin, dan Baharuddin. Majalah kebudayaan ini diterbitkan oleh percetakan Belanda Opbouw (Pembangoenan) dan karena itulah sejak awal jajaran redaksinya terlibat dalam politik kolaborasi budaya dengan Belanda. (Keith Foulcher, 89-90)


Peristiwa  Sastra Periode 1945-1953
Dalam periode ini terdapat beberapa peristiwa penting. Diantaranya
1.    Proklamasi   kemerdekaan (17 Agustus 1945),
2.    Gebrakan Chairil Anwar dengan bahasa puisinya yang pendek, padat, berbobot,dan struktur puisinya yang menyimpang dari pola sastra sebelumnya,
3.     Lahirnya angkatan ’45,
4.    Diumumkannya Surat Kepercayaan Gelanggang,
5.    Penyerangan terhadap Angkatan ’45.
Sebenarnya Periode ini dibagi menjadi dua, yaitu masa penjajahan Jepang dan masa sesudah penjajahan Jepang. Masa penjajahan Jepang antara 1942-1945 dan masa sesudah penjajahan Jepang antaara 1945-1953. Masa sesudah penjajahan jepang ini adalah tepat menjelang  kemerdekaan Bangsa Indonesia. Salah satu sastrawan  yang bersinar  di periode ini adalah Chairil Anwar. Pada masa ini, Chairil Anwar—si binatang jalang—walaupun melakukan suatu gebrakan dengan bahasanya yang singkat tetapi bernas itu telah melakukan beberapa kebohongan yang membuatnya dicap sebagai plagiator. Chairil memang penyair besar yang menginspirasi dan mengapresiasi upaya manusia meraih kemerdekaan, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Hal ini, antara lain tercermin dari sajaknya bertajuk: "Krawang-Bekasi", yang disadurnya dari sajak "The Young Dead Soldiers", karya Archibald MacLeish (1948). Dia juga menulis sajak "Persetujuan dengan Bung Karno", yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.
Chairil Anwar pun segera mendapat pengikut, penafsir, pembela, dan penyokong. Dalam bidang penulisan puisi muncul Asrul Sani, Rivai Apin, M. Akbar Djuhana, P. Sengodjo, Dodong Djiwapradja, S. Rukiah, Walujati, Harjadi S. Hartowardojo, Muh. Ali dan lain-lain. Dalam bidang penulisan prosa, Idrus pun memperkenalkan gaya  menyoal baru yang segera mendapat pengikut yang luas.
Melihat kenyataan seperti itu, maka banyaklah orang yang berpendapat bahwa suatu angkatan kesusastraan baru telah lahir. Pada mulanya angkatan ini disebut dengan berbagai nama seperti Angkatan Sesudah Perang, Angkatan Kemerdekaan, Angkatan Pembebasan, Angkatan Chairil Anwar, dan Generasi Gelanggang. Baru tahun 1948, Rosihan Anwar menyebut angkatan ini dengan nama  Angkatan ’45. Nama ini segera menjadi populer dan dipergunakan oleh semua pihak sebagai nama resmi.
Meskipun namanya sudah diperoleh, namun sendi-sendi dan landasan-landasan ideal angkatan ini belum dirumuskan. Baru pada tahun 1950 ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’ dibuat dan diumumkan. Surat kepercayaan itu ialah semacam pernyataan sikap yang menjadi dasar pegangan perkumpulan yang bernama ‘Gelanggang Seniman Merdeka’. Perkumpulan ini didirikan pada tahun 1947. Sebagai media tempat para seniman ‘Gelanggang Seniman Merdeka’ ini bergerak, maka dalam majalah Siasat yang dipimpin oleh Rosihan Anwar dibuka sebuah ruang kebudayaan yang diberi nama Gelanggang yang semula dipimpin oleh Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’ juga pertama kali diumumkan dalam ruangan kebudayaan majalah ini (23 – 10 – 1950).
Armijn Pane berpendapat bahwa Angkatan ’45 ini hanyalah lanjutan belaka dari apa yang sudah dirintis oleh angkatan sebelumnya, yaitu Angkatan Pujangga Baru. Sutan Takdir Alisjahbana juga berpendapat demikian.  H.B. Jassin, Sitor Situmorang, Rosihan Anwar, Aoh K. Hadimadja dan lain-lain gigih membela hak hidup angkatan ini, mengatakan dengan yakin bahwa para pengarang yang muda-muda itu tak bisa lagi digolongkan kepada Angkatan Pujangga Baru. Sementara itu pengarang yang berhaluan kiri dengan hebat pula menyerang Angkatan ’45 dengan semboyan yang dilontarkan oleh A.S. Dharta bahwa “Angkatan ’45 sudah mampus!”. Pada tahun 1952, H.B. Jassin mengumumkan sebuah esai berjudul ‘Angkatan ‘45’ yang merupakan pembelaan terhadap kelahiran dan hak hidup Angkatan ’45. Jassin mengatakan bahwa bukan hanya dalam gaya saja perbedaan antara Angkatan ’45 ini dengan para pengarang pujangga baru, melainkan juga dalam visi (pandangan).




Pengarang Periode 1945–1953
Beberapa pengarang yang termasuk pada periode ’45 antara lain :
1.    Chairil Anwar
2.    Asrul Sani
3.    Rivai Apin
4.    Idrus
5.    Achdiat K. Mihardja
6.    Pramoedya Ananta Toer
7.    Mochtar Lubis
8.    Sitor Situmorang
9.    Utuy T. Sontani, dan lain-lain.